3 Hal Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Donor ASI

3 Hal Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Donor ASI

Banyak cara yang bisa ditempuh dalam memperbaiki kualitas kesehatan bayi, salah satunya dengan berbagi Air Susu Ibu (ASI). Tak hanya efektif, cara ini juga terbukti bisa menekan angka kematian bayi. Bahkan lembaga Kesehatan Dunia WHO merekomendasikan donor ASI bagi bayi yang lahir dengan berat badan rendah bila ibu kandung tidak bisa memberikannya. Namun, jika kesulitan menemukan pendonor, maka pilihan terakhirnya adalah dengan memberikan susu formula.

3 Hal Penting yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Donor ASI

Jika dibandingkan dengan susu formula, ASI terbukti bisa mencegah berbagai penyakit kronis, seperti gangguan saluran cerna yang kronis dan gangguan usus selama masa awal kelahiran. Hanya saja yang perlu Anda bahwa tidak semua ibu bisa mendonorkan ASI mereka, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan donor ASI seperti di bawah ini.

Kondisi Ibu Pendonor

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak semua kondisi ibu bisa mendonorkan ASI mereka. Sebelum melakukan donor, ada baiknya ibu pendonor melakukan tes darah untuk memastikan bawa kondisi kesehatan mereka dalam keadaan baik. Selain itu, ibu pendonor juga tidak dalam kondisi sedang mengonsumsi obat-obatan atau suplemen herbal, kecuali insulin, vitamin prenatal, nasal spray, salep, produk KB yang kandungan esterogennya dalam dosis rendah dan inhaler asma. Ibu pendonor juga tidak dianjurkan memberikan donor ASI jika kondisi kesehatan atau bayi kandungnya sedang pilek atau flu.

Pertimbangkan Kemungkinan Risiko Keselamatan

Satu hal yang pasti bahwa dalam praktik donor ASI, terdapat risiko kesehatan untuk bayi yang sewaktu-waktu bisa menyerang, tergantung pada siapa ibu pendonor yang memberikan ASI dan bagaimana mekanisme donor itu dilakukan. Salah satunya seperti mekanisme penyimpanan ASI. Beberapa risiko yang mungkin saja bisa menyerang bayi adalah terpapar penyakit menular bahkan termasuk HIV dan terkontaminasi zat kimia akibat obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibu pendonor.

Sedangkan untuk mekanisme penyimpanan, ASI harus disimpan dengan cara dibekukan agar ASI tidak mudah terkontaminasi bakteri jahat dan aman untuk diminum si kecil. Hal lain yang perlu Anda perhatikan adalah kebutuhan gizi tiap bayi, karena beberapa kondisi bayi bergantung pada banyak faktor, termasuk usia dan kondisi kesehatan bayi itu sendiri. Oleh sebab itu, disarankan untuk mengonsultasikan mengenai pilihan memberikan ASI donor untuk anak dengan dokter terlebih dahulu.

Bergabung Dengan Komunitas Pemerhati ASI

Setelah melakukan konsultasi dan Anda memutuskan memberi ASI donor kepada anak Anda, pastikan ibu yang akan menjadi pendonor ASI sudah melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan keamanan ASI-nya. Atau Anda juga bisa bergabung dengan beberapa komunitas pemerhati ASI untuk mencari informasi penting mengenai donor ASI secara detail. Jika Anda sudah merasa banyak menampung informasi mengenai praktiki ini dan juga sudah berkonsultasi dengan dokter, Anda bisa menentukan pilihan bijak mengenai si kecil.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan