Gangguan Tumbuh Kembang Bayi Prematur

Pada awal kehidupannya, bayi prematur menghadapi banyak sekali tantangan. Selain itu, risiko gangguan tumbuh kembang bayi pun harus diwaspadai orang tua.

Menurut para ahli, pada awalnya risiko efek jangka panjang diketahui hanya terjadi pada bayi prematur yang lahir dengan berat badan yang sangat rendah. Namun, kini diketahui bahwa hampir seluruh bayi prematur, termasuk yang lahir pada minggu ke-34 sampai 36, sama berisiko terkena gangguan tumbuh kembang bayi.

Berikut adalah daftar risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur jangka panjang yang harus Anda waspadai:

Pendengaran dan penglihatan

Sebagian bayi prematur dengan berat badan lahir kurang dari 1,5 kg mengalami kelainan pada bagian perifer atau pusat pendengaran atau keduanya. Risiko yang lebih tinggi, yakni hilangnya daya dengar, juga mungkin terjadi pada mereka. Mereka juga berisiko terkena retinopati prematuritas. Kondisi tersebut mengakibatkan pembengkakan pada pembuluh darah dan kelainan lapisan saraf pada retina mata. Kondisi ini membuat retina lepas dari posisi normal yang dapat berujung pada kebutaan bila tidak ditangani dengan tepat.

Kemampuan kognitif

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang lahir prematur berisiko mengalami gangguan belajar saat usia sekolah dasar. Masalah yang mereka hadapi di antaranya adalah sulit fokus, sulit mengekspresikan diri lewat bahasa, dan lemah pada kecerdasan visual motorik serta visual spasial. Walaupun demikian, belum ada penelitian tentang kemampuan kognitif mereka pada masa dewasa.

Kemampuan bahasa

Banyak penelitian menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan bayi yang terlahir normal, bayi yang terlahir prematur cenderung mengalami gangguan perkembangan bahasa. Masalah bahasa yang dialami sebagian besar bayi prematur selama beberapa tahun awal sejak kelahirannya di antaranya mencakup pemahaman kalimat, artikulasi (pengucapan), pengekspresian diri melalui bahasa, dan pengolahan kata. Pada saat mencapai usia sekolah, mereka cenderung mengalami kesulitan belajar, terutama dalam membaca, menulis, mengeja, berhitung, dan melakukan fungsi eksekutif berupa proses untuk mengorganisasi dan menyatukan serpihan-serpihan informasi.

Psikomotorik dan perilaku

Sebuah penelitian di sekolah membandingkan anak usia 7-8 tahun yang lahir normal dengan yang lahir sebelum usia kandungan 32 minggu. Hasilnya diketahui bahwa anak-anak yang lahir prematur cenderung mengalami gangguan motorik meskipun tingkat intelegensianya normal. Selain itu, mereka cenderung berperilaku hiperaktif, kurang terorganisir, kurang tekun, lebih impulsif, dan mudah teralihkan perhatiannya. Kemungkinan terjadinya attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada mereka juga lebih tinggi dibanding pada anak yang lahir normal.

Perkembangan emosional

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa remaja yang lahir pada usia kandungan sebelum 29 minggu memiliki lebih banyak masalah emosional dengan orang tua, guru, maupun teman-teman sebayanya. Walaupun demikian, kondisi ini tidak mengarah pada masalah yang lebih serius, misalnya depresi atau penyalahgunaan obat terlarang.

Untuk memaksimalkan tumbuh kembang bayi prematur dan menekan risiko jangka panjang, lakukan pemeriksaan secara teratur atau sesuai dengan saran dokter anak Anda.

 Gangguan Tumbuh Kembang Bayi Prematur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *