Mengenal Perkembangan Emosi Anak Batita

Hampir semua orang tua siap dalam menghadapi perkembangan fisik anak batita, namun tidak siap menghadapi perkembangan emosinya. Bila demikian adanya, orang tua sering kali merasa kewalahan. Mengapa demikian? Karena kebanyakan orang tua tidak memiliki pemahaman yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan emosinya.

Pada periode batita, anak berkembang menuju kemandirian sehingga ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu. Anak batita sangat memerlukan dukungan dan kesabaran dari orang tuanya agar ia bisa mencapai potensi maksimal perkembangannya. Bila yang didapatkannya adalah atensi negatif, seperti dimarahi, disalahkan, dilarang, dan seterusnya, maka emosi yang berkembang dalam dirinya adalah keraguan dan ketakutan. Oleh sebab itu, mari kita mengenal beberapa emosi khas periode batita berikut ini.

  1. PERHATIAN PERSONAL

Karena sedang berada dalam fase egosentris, balita selalu menuntut perhatian personal. Ia ingin semua jadi miliknya dan hanya untuk dirinya. Ia akan berusaha memastikan bahwa orang tuanya memberikan perhatian penuh padanya, bukan hanya perhatian selewat atau sekali saja. Sebagai contoh, anak batita akan meminta perhatian saat orang tuanya menelepon hanya untuk menunjukkan mainannya berkali-kali, walaupun mainannya itu-itu juga.

Respons yang tepat adalah dengan memberikan perhatian secukupnya. Tunjukkan bahwa Anda sudah tahu maksudnya, dan sekarang Anda harus mengerjakan hal lain. Katakan padanya, “Oh, iya Sayang, pedang-pedangannya bagus, tapi sekarang Ayah harus menelepon dulu ya. Sekarang Kaka duduk dulu di sini di sebelah Ayah. Selesai Ayah menelepon, kita akan main lagi.”

Baca Juga: Gaya Hidup Sehat Untuk Mendapatkan Bayi Cerdas

  1. SUASANA HATI GAMPANG BERUBAH

Anak batita mudah berganti suasana hati dalam waktu sekejap. Ini disebabkan oleh dua faktor: pertama, karena anak mulai sadar bahwa dirinya merupakan individu yang terpisah dari orang tuanya, anak ingin melakukan segala sesuatunya sendiri; kedua, kemampuannya masih sangat terbatas. Sebagai contoh, satu saat anak bisa menangis meminta susu, namun sesaat kemudian, setelah mendapatkan susunya, ia bisa tertawa riang.

Respons yang tepat adalah dengan selalu bersikap tenang dan memberikan jalan keluar untuk masalah yang sedang dialami anak. Identifikasi tangisan anak. Bila karena lapar dan ingin susu, segera berikan agar ia tak menjadi frustrasi.

  1. UNGKAPAN KASIH SAYANG

Batita pasti akan berlari masuk ke dalam pelukan orang tuanya setiap kali mereka membuka tangan. Ini merupakan bukti bahwa anak batita senang mengeksplorasi perasaan menyenangkan yang timbul dari kontak fisik. Batita senang mendapatkan pelukan, ciuman, dekapan, sentuhan dan sebagainya.

Respons yang tepat adalah dengan membalas menciumnya, mengungkapkan rasa cinta secara verbal, dan sebagainya. Orang tua sebaiknya tidak menolak ungkapan kasih sayang dari anak, karena batita akan mengingatnya sebagai kenangan buruk. Contoh respons yang tidak tepat: anak memeluk orang tua dari belakang, tapi orang tua merespons, “Aduh, Nak, tangan kamu kotor.”

Be Sociable, Share!
 Mengenal Perkembangan Emosi Anak Batita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *