Strategi Menghadapi Tantrum Anak Batita

alatbayi.net-anak batita

Kemunculan tantrum atau amarah yang tak terkendali pada anak batita sejatinya merupakan pertanda baik. Oleh karena itu Anda sebagai orang tuanya harus menangani amukannya dengan bijak.

Anak batita sering kali tiba-tiba marah-marah ketika merasa tidak puas, bahkan oleh hal sepele. Sebetulnya, tantrum sangat wajar dialami oleh semua anak usia dini. Saat masih bayi, perilaku ini beum muncul, karena bayi biasanya hanya menunjukkan respon dengan cara menangis ketika ia merasa haus, lapar, dan popoknya basah. Seiring bertambahnya usia, bayi kemudian mengembangkan konsep “saya mau”. Bila yang ia mau tidak ia dapat, maka ia akan mengalami frustrasi yang diekspresikan dengan tantrum.

Berikut ini bentuk-bentuk tantrum pada anak batita dan cara mengatasinya.

Usia 12-18 bulan

Pada periode ini hambatan-hambatan fisik biasanya menjadi faktor yang membuat anak batita frustrasi. Sebagai contoh, anak merasa terhalangi ketika ia harus duduk di kursi makan khusus batita. Karena kemampuan motoriknya sedang berkembang dan bertambah, benda-benda semacam itu membatasi geraknya. Berhubung kemampuan bicaranya masih terbatas, ia akan mengepalkan tangannya dengan muka memerah karena marah untuk mengekspresikan ketidaknyamanannya.

Bentuk tantrum

Menangis keras, melengkungkan punggung, dan menggeliat-geliat dengan marah.

Cara mengatasinya

Anda harus berusaha memahami segala keterbatasannya serta mengantisipasi hambatan yang memicu munculnya tantrum. Jika anak telanjur mengamuk, segera ambil si anak untuk disayang-sayang, dielus-elus, dan dipeluk sampai dia tenang. Alihkan saja perhatiannya pada mainan dan nyanyian. Namun, adakalanya, Anda hanya bisa menunggu sampai tantrum-nya reda.

Baca juga: Gejala, Penyebab, dan Diagnosis Pertumbuhan Anak Lambat

18 bulan sampai 3 tahun

Perlu diIngat bahwa tantrum hanyalah ekspresi sederhana dari rasa frustrasi pada anak batita. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mendukung kemandiriannya yang sedang berkembang dengan tetap bersikap kritis untuk mengatakan “tidak” terhadap permintaan-permintaannya yang tidak masuk akal.

Bentuk tantrum

Berteriak sambil menangis, menendang, membanting dan melempar sesuatu, memukuli tangan dan kaki, serta menjatuhkan diri ke lantai. Semua ini muncul karena pada usia batita anak belum mengerti konsep menunggu. Selain itu, tantrum juga bisa muncul karena capek, lapar, dan perubahan yang tidak diharapkan.

Cara mengatasinya

Orang tua harus bergerak tenang dan menghindari jangkauan anak, sambil mengatakan, “Tidak. Kamu tak boleh memukul ibu/ayah!” Segeralah bawa ke tempat yang aman bila ia bermaksud membahayakan dan melukai dirinya agar ia dapat melanjutkan tantrum-nya dengan aman.

Anda juga harus bersikap konsisten atau tidak mengalah. Misalnya, anak mengamuk karena kita tidak mengizinkannya membeli suatu jajanan. Saat ia berteriak-teriak, berikan alasan yang masuk akal. Bila Anda menyerah, anak akan belajar bahwa ia bisa menggertak orang tuanya untuk menuruti keinginannya.

Anak di usia ini masih bisa dialihkan perhatiannya, misalnya dengan mengajaknya bermain puzzle sederhana. Ini bisa mengalihkan pikirannya dari jajanan tadi.

Be Sociable, Share!
 Strategi Menghadapi Tantrum Anak Batita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *